Saat Blue Fire Mengajarkan Saya Menjaga Mata

 

Ada beberapa destinasi yang rasanya selalu menempati posisi teratas dalam daftar impian seorang traveler, dan bagi saya, Blue Fire Kawah Ijen adalah salah satunya. Sudah bertahun-tahun saya menatap foto-foto api biru yang menyala di tengah kepulan asap belerang itu, membayangkan bagaimana rasanya berdiri langsung di depan fenomena alam spektakuler yang konon hanya ada di segelintir tempat di dunia.

Malam itu, alarm saya berbunyi sekitar pukul setengah satu dini hari. Dari hotel kecil di kawasan Banyuwangi, saya dan beberapa teman seperjalanan bersiap menuju pos pendakian Paltuding. Udara pegunungan yang menusuk kulit langsung menyambut begitu pintu mobil terbuka. Gelap masih menyelimuti segalanya, hanya lampu kepala para pendaki yang berkelap-kelip di sepanjang jalur, menandakan bahwa kami tidak sendirian mengejar mimpi yang sama malam itu.

Yang membuat saya terharu, di titik kumpul saya bertemu pendaki dari berbagai kota, bahkan beberapa turis asing yang jauh-jauh terbang ke Indonesia hanya demi menyaksikan Blue Fire dengan mata kepala sendiri. Rasa kantuk yang tadinya menggelayut perlahan hilang, digantikan semangat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bangun tengah malam terasa bukan masalah besar, sebab rasa penasaran saya jauh lebih besar daripada rasa kantuk itu sendiri.

Di Tengah Trekking, Mata Mulai Memberikan Sinyal


Trekking menuju kawah ternyata jauh lebih menantang dari yang saya bayangkan. Jalur berbatu dan berpasir itu menanjak cukup curam, ditambah suhu dingin yang membuat setiap embusan napas terlihat seperti asap. Angin bertiup cukup kencang di beberapa titik, membawa debu halus yang beterbangan setiap kali rombongan pendaki lain melintas berdekatan.

Sepanjang jalan, mata saya harus terus terjaga, fokus membaca kontur jalan yang gelap dan berbatu agar tidak salah pijak. Sesekali, dari kejauhan, angin membawa aroma dan asap belerang tipis yang membuat mata semakin bekerja ekstra keras untuk beradaptasi.

Entah sejak kapan tepatnya, kondisi fisik saya mulai diuji dari area penglihatan. Rasa ketidaknyamanan berangsur-angsur memuncak hingga memicu Gejala Mata Kering yang membuat Mata SEpet, PErih, LElah ( Mata SEPELE ). Rasanya seperti ada pasir halus yang mengganjal setiap kali berkedip. Perih ringan juga mulai muncul, apalagi ketika angin dingin bertiup langsung ke wajah. Ditambah rasa lelah setelah berjalan cukup panjang, mata saya jelas sedang memberi sinyal bahwa ia butuh perhatian. Tapi saat itu, pikiran saya hanya satu: Blue Fire sudah tinggal sedikit lagi, saya tidak mau berhenti sekarang.

Blue Fire Akhirnya Terlihat, Tetapi Mata Mulai Tidak Nyaman


Setelah hampir dua jam mendaki, akhirnya kami tiba di pinggir kawah dan turun mendekati titik api. Dan di sanalah ia, api biru yang selama ini hanya saya lihat lewat layar ponsel, kini benar-benar menyala di depan mata. Rasanya seperti mimpi yang tiba-tiba menjadi nyata. Kobaran biru itu menari di antara bebatuan, dikelilingi kabut belerang yang membuat suasana terasa magis sekaligus misterius.

Namun, di tengah momen yang seharusnya sempurna itu, gangguan yang tadinya saya anggap SePeLe ini justru makin menjadi-jadi. Saya lebih sering berkedip dari biasanya, dan pandangan sesekali terasa buram sesaat. Ketika mencoba mengabadikan momen lewat kamera, saya kesulitan fokus karena mata terus terasa perih dan berair.

Beberapa hasil foto pun jadi kurang maksimal, buram di bagian yang seharusnya paling saya banggakan. Ada rasa kecewa kecil yang menyelinap, sebab momen luar biasa yang sudah saya nanti-nantikan bertahun-tahun ini tidak bisa saya nikmati secara 100% akibat pandangan yang terganggu.

Awalnya saya mengira ketidaknyamanan itu hanya karena kurang tidur semalaman. Tapi setelah turun gunung dan mencoba mencari informasi lebih lanjut, saya baru menyadari bahwa masalah iritasi mata saat berpetualang di alam terbuka merupakan hal yang sangat umum namun kerap diabaikan.

Ternyata, ada banyak faktor pemicu saat traveling: udara dingin pegunungan yang kering, angin kencang yang menerpa wajah, debu jalanan yang beterbangan, paparan asap belerang, kurang tidur karena start dini hari, hingga dehidrasi selama perjalanan panjang. Semua kombinasi itu membuat lapisan air mata menguap lebih cepat dan membuat mata kehilangan kelembapannya justru di momen yang paling krusial.


Belajar Menjaga Kenyamanan Mata Saat Berpetualang


Sejak pengalaman di Kawah Ijen tersebut, saya jadi jauh lebih memperhatikan kondisi kesehatan fisik, terutama mata, setiap kali hendak melakukan perjalanan outdoor. Beberapa persiapan penting yang kini wajib saya lakukan antara lain:

  • Memastikan istirahat dan tidur yang cukup sebelum hari pendakian.

  • Rutin minum air putih agar cairan tubuh tetap terhidrasi dengan baik.

  • Menggunakan pelindung seperti kacamata outdoor saat kondisi medan berangin atau berdebu.

  • Tidak sesekali mengucek mata secara langsung ketika kemasukan debu jalanan.

  • Menyiapkan pertolongan pertama untuk kenyamanan mata di dalam tas pendakian.

Kini, setiap kali keluhan mata perih atau sepet mulai terasa di tengah perjalanan, saya tidak lagi panik. Saya cukup tetesin Insto dry eyes untuk meredakan iritasi ringan dan mengembalikan kelembapan alami mata. Penggunaan INSTO DRY EYES terbukti sangat praktis dibawa ke mana saja, terutama untuk traveler yang sering berhadapan dengan cuaca ekstrem. Kesadaran ini juga makin diperkuat dengan kampanye Mata SePeLe Jangan Disepelein yang mengingatkan kita untuk selalu menjaga kesehatan indra penglihatan di mana pun berada.

Traveling Akan Lebih Berkesan Jika Mata Tetap Nyaman


Blue Fire Kawah Ijen tetap menjadi salah satu perjalanan terbaik dalam hidup saya. Keindahan api biru yang menari di kegelapan itu akan selalu membekas di ingatan. Namun dari perjalanan itu saya belajar satu hal berharga: menikmati keindahan alam bukan hanya soal berhasil sampai di puncak tujuan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga organ tubuh agar tetap nyaman sepanjang petualangan.

Sekarang, sebelum berangkat menuju destinasi impian mana pun, saya selalu memegang prinsip tersebut. Karena pada akhirnya, perjalanan yang paling berkesan bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, melainkan seberapa jernih dan utuh kita bisa menikmati setiap detiknya lewat sepasang mata yang sehat dan nyaman.

#InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLeJanganSepelein

Comments

Popular Posts